Senin, 27 April 2009

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN RENDAHNYA CAKUPAN Fe IBU HAMIL DI KABUPATEN BENGKULU SELATAN PROPINSI BENGKULU TAHUN 2003

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anemia Gizi merupakan masalah kesehatan yang berperan dalam penyebab tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi serta rendahnya produktivitas kerja, prestasi olahraga dan kemampuan belajar. Oleh karena itu, penanggulangan anemia gizi menjadi salah satu program potensial untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, yang telah dilaksanakan pemerintah sejak Pembangunan Jangka Panjang I (Depkes, 1996).

Pada saat ini angka kematian ibu dan angka kematian perinatal di Indonesia masih sangat tinggi. Menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (1994) angka kematian ibu adalah 390 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Perinatal adalah 40 per 1.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain maka angka kematian ibu di Indonesia adalah 15 kali Angka Kematian Ibu di Malaysia, 10 kali lebih tinggi daripada Thailand, atau 5 kali lebih tinggi dari pada Philipina (Depkes, 2002).

Wanita hamil merupakan salah satu kelompok golongan yang rentan masalah gizi terutama anemia akibat kekurangan zat besi (Fe). Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia dari tahun ke tahun yaitu SKRT 1986 menunjukkan tingkat anemia ibu hamil sebesar 73,3%; SKRT 1992 sebanyak 63,5%; dan SKRT 1995 sebanyak 50,9%.

Berbagai kendala dalam pencegahan anemia gizi menjadi faktor penyebab masih tingginya prevalensi anemia di Indonesia. Triratnawati (1997) mengungkapkan bahwa salah satu kendala mendasar adalah adanya persepsi yang salah, baik dikalangan masyarakat, petugas kesehatan maupun pemerintah. Hal serupa juga diungkapkan oleh Wignjosastro (1997) bahwa keterbatasan dana, mutu pelayanan, Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) merupakan penghambat dalam upaya penurunan kejadian anemia (Prosiding, 2002).

Berdasarkan tabel berikut dapat dilihat data prevalensi anemia tahun 1995.

Tabel 1.1

Prevalensi Anemia Tahun 1995

Kelompok umur

Prevalensi Anemia

Laki – laki (%)

Wanita (%)

Total (%)

0 – 5 tahun

35,7

45,2

40,5

6 – 10 tahun

46,4

48,6

47,2

10 – 14 tahun

45,8

57,1

51,5

15 – 44 tahun

58,3

39,5

48,9

45 – 54 tahun

53,7

39,3

46,5

55 – 64 tahun

52,5

40,5

51,5

> 65 tahun

70,0

45,8

57,9

Ibu hamil

-

50,9

50,9

Ibu menyusui

-

45,1

45,1

Sumber : Depkes 1999.

Kurangnya asupan zat besi (Fe) yang adekuat mengakibatkan timbulnya penyakit anemia gizi. Gejalanya tampak melalui kadar Hb di bawah 11 gr %, pucat, lesu, letih, lemah dan terjadinya pendarahan (lmasyhuri, 1998).

Masalah anemia gizi pada wanita hamil dari 1986 sampai 1995 menunjukkan telah terjadi penurunan prevalensi anemia (Prosiding, 2002). Angka prevalensi tersebut masih termasuk dalam katagori tinggi dari target yang diharapkan pada akhir Repelita VI yaitu sebesar 40% . Dalam lingkup yang lebih kecil misalnya di Jawa Tengah, prevalensi anemia pada ibu hamil cukup tinggi yaitu sebesar 55% pada tahun 1992 dan menjadi 56,6% pada tahun 1999 (Soeharyo dan Budi, 1999).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Subagio dari 70 wanita hamil menunjukkan bila digunakan nilai ambang batas 11gr/dl, prevalensi anemia 77,1% namun bila ambang batas yang dipakai 10,5gr/dl prevalensi anemia 38,6%. Prevalensi defisiensi besi, seng, B12, dan vitamin A masing-masing sebesar 31,4%, 64,3%, 64,3%, dan 32,9 %.

Menurut United Nation yang dikutip oleh Soegianto (1993), tingginya prevalensi anemia pada kehamilan melatarbelakangi terjadinya kematian ibu sewaktu hamil, bersalin atau nifas sebagai akibat komplikasi penanganannya. Sekitar 50% dari kematian di negara-negara berkembang dilatarbelakangi, baik secara langsung maupun tidak langsung oleh anemia defisiensi besi. Anemia berat menyebabkan kegagalan jantung atau kematian pada saat atau sehabis melahirkan yang bagi ibu sehat tidak membahayakan, bagi ibu hamil dengan anemia berat dapat menimbulkan kematian. Sekitar 20% kematian maternal di negara berkembang penyebabnya berkaitan langsung dengan anemia defisiensi besi. Disamping dapat mengakibatkan kematian, anemia defisiensi besi pada kehamilan menyebabkan pertumbuhan janin dalam kandungan terganggu, dan munculnya Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR).

Risiko anemia gizi pada ibu hamil lebih tinggi dibandingkan dengan wanita tidak hamil. Salah satu penyebabnya adalah pada ibu hamil diperlukan kebutuhan zat gizi yang meningkat. Selain untuk menutupi kehilangan basal (kehilangan zat gizi melalui keringat, urine, dan kulit), juga dibutuhkan untuk keperluan pembentukan sel-sel darah merah yang bertambah banyak serta untuk kebutuhan plasenta dan janin dalam kandungan. Menurut Husaini (1989) di negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia banyak wanita yang memasuki masa kehamilan dengan cadangan zat besi dalam tubuhnya hanya sedikit dan sebagian lagi menderita anemia kurang zat besi. Wanita-wanita tersebut pada masa kehamilannya akan mempunyai kadar hemoglobin kurang dari normal (<>World Health Organization (1968) menganjurkan untuk memberikan suplementasi Fe kepada ibu hamil, karena keperluan zat besi pada masa hamil tidak dapat dipenuhi hanya dari makan saja. Ibu hamil sangat disarankan untuk minum pil besi selama 3 bulan yang harus diminum setiap hari. Pil ini dibagikan secara gratis melalui kegiatan posyandu. Suatu penelitian menunjukan bahwa wanita hamil yang tidak minum pil besi mengalami penurunan ferritin (cadangan besi) cukup tajam sejak minggu ke 12 usia kehamilan (Khomsan, 2003).

Walaupun terdapat sumber makanan nabati yang kaya besi, seperti daun singkong, kangkung, dan sayuran berwarna hijau lainnya, namun zat Fe dalam makanan tersebut lebih sulit penyerapannya. Dibutuhkan porsi yang besar dari sumber nabati tersebut untuk mencukupi kebutuhan zat besi dalam sehari, dan jumlah tersebut tidak mungkin terkonsumsi. Sehingga dalam kondisi kebutuhan Fe tidak terpenuhi dari makanan, maka pilihan untuk memberikan tablet besi Folat dan sirup besi guna mencegah dan menanggulangi anemia menjadi sangat efektif dan efisien. (Depkes,1999).

Anemia merupakan kondisi kurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam darah seseorang. Anemia terjadi karena kurangnya hemoglobin yang berarti juga minimnya oksigen ke seluruh tubuh. Apabila oksigen berkurang tubuh akan menjadi lemah, lesu dan tidak bergairah (Budiyanto, 2002).

Upaya-upaya dalam penanggulangan anemia gizi terutama pada wanita hamil telah dilaksanakan oleh pemerintah. Salah satu caranya adalah melalui suplementasi tablet besi. Suplementasi tablet besi dianggap merupakan cara yang efektif karena kandungan besinya padat dan dilengkapi dengan asam folat yang sekaligus dapat mencegah dan menanggulangi anemia akibat kekurangan asam folat. Cara ini juga efisien karena tablet besi harganya relatif murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat kelas bawah serta mudah didapat (Depkes, 1996).

Masalah yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia adalah tingginya prevalensi anemia ibu hamil yaitu sebesar 50,9% dan sebagian besar penyebabnya adalah kekurangan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin, sehingga anemia yang ditimbulkan disebut anemia kekurangan besi. Keadaan kekurangan besi pada ibu hamil dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan baik pada sel tubuh maupun sel otak. Pada ibu hamil dapat mengalami keguguran, lahir sebelum waktunya, bayi berat lahir rendah (BBLR), perdarahan sebelum serta pada waktu melahirkan dan pada anemia berat yang dapat menimbulkan kematian ibu dan bayi. Pada anak dapat mengalami gangguan pertumbuhan, tidak dapat mencapai tinggi yang optimal dan anak menjadi kurang cerdas (Soekirman, 2000).

Mengingat dampak anemia tersebut di atas yang dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia, maka perlu penanggulangan kekurangan zat besi pada ibu hamil dengan segera. Oleh sebab itu pemerintah Indonesia mulai menerapkan suatu program penambahan zat besi sekitar dua puluh tahun yang lalu. Program ini didasarkan dengan harapan setiap ibu hamil secara teratur memeriksakan diri ke Puskesmas atau Posyandu selama masa kehamilannya. Tablet besi dibagikan oleh petugas kesehatan kepada ibu hamil secara gratis. Namun bagaimanapun program penambahan zat besi tanpa pengawasan atau pengontrolan penggunaan tablet secara teratur akan menghilangkan efektivitas akibat faktor-faktor seperti pembagian tablet yang tidak teratur dan keberhasilan program yang jelek.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Departemen Kesehatan antara lain:

1. Pemberian tablet besi pada ibu hamil secara rutin selama jangka waktu tertentu untuk meningkatkan kadar hemoglobin secara tepat. Tablet besi untuk ibu hamil sudah tersedia dan telah didistribusikan ke seluruh provinsi dan pemberiannya dapat melalui Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu dan Bidan di Desa.

2. Buku Pedoman pemberian besi bagi petugas tahun 1995, dan poster-poster mengenai tablet besi sudah dibagikan.

3. Buku Pedoman Operasional Penanggulangan Anemia Gizi bagi petugas tahun 1996.

4. Sejak tahun 1993 kemasan Fe yang tadinya menimbulkan bau kurang sedap sekarang sudah mengalami perbaikan yaitu tablet salut yang dikemas sebanyak 30 tablet per bungkus aluminium dengan komposisi yang sama.

5. Namun, melihat program di lapangan menunjukan bahwa belum semua ibu hamil mendapatkan tablet besi sesuai yang diharapkan program yaitu 90 tablet.

Defisiensi Fe di Indonesia merupakan problema defisiensi nasional dan perlu ditanggulangi secara serius dengan liputan nasional pula. Upaya prevensi belum diprogramkan secara menyeluruh, baru diberikan suplemen preparat Ferro kepada para ibu hamil yang memeriksakan diri ke Puskesmas, rumah sakit dan dokter (Sediaoetama, 2000).

Faktor utama yang menyebabkan sulitnya penurunan prevalensi anemia ini antara lain karena rendahnya cakupan distribusi dan kepatuhan ibu mengkonsumsi tablet besi. Survei Kesehatan Rumah Tangga melaporkan bahwa distribusi tablet besi sebesar 27% dan kepatuhan ibu mengkonsumsi tablet besi sebanyak 23% (Ernawati, 2000).

Di Provinsi Bengkulu program pemberian tablet besi dalam rangka menanggulangi anemia telah dilakukan beberapa tahun yang lalu. Salah satu kabupaten yang melaksanakan program pemberian tablet besi adalah Kabupaten Bengkulu Selatan.

Menurut data Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu cakupan ibu hamil yang mendapat 1 bungkus tablet besi (Fe1) di Provinsi Bengkulu sebesar 64,9% sedangkan ibu hamil yang mendapat 3 bungkus tablet besi (Fe3) adalah sebesar 58,4%. Sementara di Kabupaten Bengkulu Selatan pada tahun 2003, cakupan ibu hamil yang mendapat Fe1 sebesar 43,6%, dan ibu hamil yang mendapat Fe3 sebesar 44,7%. sementara itu kunjungan pertama ibu hamil (K1) adalah 83,0% dan cakupan pemeriksaan yang keempat (K4) adalah 65,9%. Di lain pihak cakupan nasional untuk Fe ibu hamil adalah sebesar 63,5 % (Nugraheni, 2002).

Adapun target yang harus dicapai untuk cakupan Fe1 adalah sebesar 90% dan cakupan untuk Fe3 adalah sebesar 80%. Berdasarkan data-data di atas maka secara program Kabupaten Bengkulu Selatan dikatakan tidak dapat mencapai target. Dilaporkan bahwa angka cakupan di Kabupaten Bengkulu Selatan bervariasi dari Puskesmas ke Puskesmas lainnya. Dari 10 Puskesmas yang ada di Kabupaten Bengkulu Selatan hanya 3 Puskesmas yang mempunyai cakupan tinggi, sehingga timbul pertanyaan faktor-faktor apa saja yang membuat rendahnya cakupan Fe ibu hamil, sehingga peneliti berminat untuk mengetahuinya. Selain itu hal lain yang mendorong penulis untuk meneliti tentang hal ini adalah bahwa penelitian tentang rendahnya cakupan Fe ibu hamil belum pernah dilakukan di Kabupaten Bengkulu Selatan.

Untuk mengetahui berapa jumlah sasaran yang tercakup dalam program penggulangan anemia adalah dengan cara memantau jumlah tablet besi oleh wanita hamil yang dikaitkan dengan distribusi dan logistiknya. Adapun cara memantau jumlah pemakaian tablet besi ini sudah dituangkan secara jelas dalam buku pedoman yang sudah diberikan yaitu mulai dari tingkat Pusat sampai ke tingkat Puskesmas.

Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 21 tahun 1994 tentang struktur organisasai Dinas Kesehatan menyatakan bahwa Dinas Kesehatan berkewajiban membina unsur-unsur pelaksana di wilayahnya. Mengingat Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis dari Dinas Kesehatan, maka pembinaan terhadap Puskesmas merupakan suatu kewajiban dari Dinas Kesehatan. Pembinaan dimaksud meliputi pembinaan administrasi, teknis dan keterampilan manajerial yang dapat dilaksanakan kepada kepala Puskesmas dan atau petugas Puskesmas sesuai dengan program atau kegiatan yang dikelola. Pembinaan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan antara lain adalah pertemuan di tingkat Kabupaten, permintaan laporan, dan kunjungan ke Puskesmas.

Berdasarkan pengamatan penulis, selama tahun 2002/2003, pembinaan yang dilakukan oleh petugas kabupaten maupun Puskesmas belum menggunakan kaidah yang ada seperti Cheklist, pemberian umpan balik kepada Puskesmas/desa setelah pembinaan dilakukan, serta frekuensi pembinaan yang belum merata antara Puskesmas satu dengan lainnya.

Source : http://www.skripsi-tesis.com

KURANG GIZI: SALAH SATU PENYEBAB MENURUNNYA TINGKAT KECERDASAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA

Oleh :

N. L. Soeida S.

G 426010091

E mail: ironida@yahoo.com

I PENDAHULUAN

Upaya pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan pada hakekatnya adalah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sebagai pencerminan dari tujuan nasional. Seperti halnya di negara – negara berkembang lainnya, di Indonesia kekuranagn gizi merupakan masalah utama yang diketahui dapat menghambat lajunya pembangunan nasional ( Kodyat, 1992 )

Disamping itu kekurangan gizi pada anak sebenarnya adalah bentuk dari kelaparan tidak kentara dan itu salah satu ukuran kesejahteraan selain kesehatan dan pendidikan ( Soekirman , 2002 )

Sampai saat ini masih terdapat masalah kurang gizi terutama diderita oleh bayi, anak – anak usia sekolah dan wanita. Tiga macam kekurangan gizi yang dipandang sebagai masalah kesehatan umum di Indonesia adalah : defisiensi iodium, vitamin A dan zat besi ( Wirakastakusumah, 1998 )

Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah guna mengatasi gizi ini terutama yang menyangkut defisiensi iodium dan zat besi. Dua zat gizi ini dianggap berpengaruh amat besar terhadap tingkat kecerdasan. Oleh karena itu pemerintah terus menggalakkan program pembuatan garam beriodium, suplementasi zat besi bagi kelompok sasaran dan mengupayakan pemberiaan makanan tambahan untuk anak sekolah guna mengatrol tingkat kecerdasan anak sekolah dasar maupun madrasah ibtidaiyah.

Makalah ini menguraikan usaha yang telah dilakukan pemerintah disertai kendala yang dihadapi dalam mengatasi rawan gizi utamanya iodium dan zat besi serta protein.

II IODISASI GARAM

Program iodisasi garam merupakan program jangka panjang untuk penanggulangan Ganguan Akibat Kekurangan Iodium ( GAKI ) , cara ini dianggap yang paling sederhana dan aman, karena secara fisiologis memberikan iodium melalui makanan.

Iodium adalah suatu zat essensial dibutuhkan untuk aktivasi fungsi hormon thyroid. Hormon ini diketahui mengekstrak iodium dari nutrien yang akan menekan timbulnya penyakit gondok. Penyakit ini disebabkan oleh rendahnya iodium dalam diet, yang mengakibatkan pembesaran kelenjar gondok.Bahan pangan yang bersifat sebagai sumber iodium adalah yang berasal dari laut dikenal dengan seafood. Akan tetapi didaerahdimana seafood tidak tersedia, diet iodium lebih mudah diperoleh dalam bentuk bahan pangan hasil fortifikasi atau berupa suplemen.

Salah satu bahan pangan yang berhasil di fortikasi dengan iodium adalah garam. Menurut ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan RI 1986, kandungan KIO3 yang dianjurkan adalah 40 ppm.

Iodium diperlukan semata – mata untuk biosintesis hormon thyuroid yang mengandung iodium. Kebutuhan iodium meningkat pada kaum remaja dan kehamilan

Tabel 1. Kebutuhan Iodium dan Besi pada bayi hingga orang dewasa.

Iodium , mg

Besi , mg

Bayi

Anak – anak

Pria

Wanita

Wanita hamil

Masa laktasi

35 – 45

60 – 110

130 – 150

100 – 115

125

150

10 – 15

10 – 15

10 – 18

18

18

18

Sumber : Harper , 1982

Adanya iodium dalam diet akan meningkatkan fungsi hormon thyroid.Dampak yang timbul akibat kurangnya iodium adalah hipofungsi kelenjar gondok. Akibatnya muncul kondisi kretin hipofungsi kelenjar gondok yang ditandai dengan gangguan pertumbuhan fisik dan mental, sehingga penderita menjadi kerdil dan kecerdasan berkurang. Oleh karena itu pencapaian garam beriodium 100 % untuk segala lapisan mendesak dilakukan.

Data tahun 1998 menunjukkan 87 juta penduduk Indonesia tinggal di daerah endemic GAKI. Akibatnya tak kurang dari 20 juta penduduk menderita gondok.

GAKI pada ibu hamil berisiko menimbulkan keguguran, sedangkan pada janin menyebabkan lahir mati. Kalaupun lahir, beresiko mengalami cacat bawaan, kematian dini, kretin, keterbelakangan mental, tuli juling dan lumpuh.

Diperkirakan tiap tahun ada 9 ( sembilan ) bayi kretin lahir di Indonesia. Sejauh ini Indonesia telah kehilangan 140 juta point. ( kompas, 2002 )

Kegiatan yang telah dilakukan oleh pemerintah meliputi pembinaan produksi, disertai pengawasan mutu. Mengingat program iodisasi garam hingga saat ini masih menghadapi beberapa permasalahan antara lain masih banyaknya garam yang beredar belum memenuhi persyaratan : Untuk itulah perlu adanya komunikasi , informasi dan edukasi (KIE ) terhadap penaggulangan GAKI yang tertuju pada 3 ( tiga ) kelompok sasaran yaitu :

a. Para perencana, pengelola dan pelaksana program.

b. Manyasarakat didaerah gondok endemic.

c. Masyarakat di luar daerah gondok endemic.

Tujuan akhir yang ingin dicapai dalam upaya KIE ini adalah terjadinya peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku positip dari ketiga golongan sasaran tersebut serta mau dan mampu mendukung suksesnya penaggulangan GAKI melalui iodisasi garam. ( Kodyat , 1992 )

Intervensi GAKI terus dilakukan dengan bantuan sejumlah badan dunia. Program intensifikasi penanggulangan GAKI yang berlangsung tahun 1997 – 2003 bertujuan menurunkan prevalensi GAKI lewat pemantauan status GAKI pada penduduk, meningkatkan persediaan garam beriodium serta meningkatkan kerja sama lintas sektoral.

III SUPLEMENTASI ZAT BESI

Besi ( Fe ) adalah unsur mineral yang paling penting di butuhkan oleh tubuh karena peranannya pada pembentukan hemoglobin. Senyawa ini bertindak sebagai pembawa oksigen dalam darah, dan juga berperan dalm transfer CO2 dan H+ pada rangkaian transpor electron yang di atur oleh fosfat organic ( Fennema 1996 )

Kebutuhan zat besi terbesar adalah selama 2 ( dua ) tahun kehidupan pertama, selama masa pertumbuhan yang cepat dan kenaikan Hb di usia remaja, serta masa kehamilan.

Kurangnya asupan dengan zat besi yang adekuat mengakibatkan timbulnya penyakit anemia gizi. Gejalanya tampak melalui kadar Hb dibawah 11g%, pucat, lesu, letih, lemah dan terjadinya pendarahan. Prevalensi yang ditimbulkannya dialami oleh anak – anak usia pertumbuhan, remaja dan wanita usia subur maupun wanita hamil. Almasyhuri dalam surveynya pada tahun 1998 mengungkapkan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil sempat berkurang dari 63,5 % menjadi 50,9 % pada tahun 1995 ( Almasyhuri, 1998 ). Akan tetapi dengan adanya krisis moneter dan ekonomi diduga mengakibatkan parahnya keadaan gizi masyarakat di Indonesia sehingga di khawatirkan negara akan kehilangan satu generasi.

Anemi gizi besi merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. Resiko anemi gizi besi ini dapat menyebabkan produktivitas kerja rendah, daya tahun tubuh terhadap penyakit menurun, kemampuan belajar anak sekolah rendah peningkatan bobot badan ibu hamil rendah da kelahiran bayi premature. Jalan pintas untuk penentuan anemia menggunakan Hb sebagai indicator telah disarankan oleh WHO dan anemia gizi ditetapkan sebagai masalah kesehatan masyarakat Indonesia secara universal.

Untuk itulah maka pemerintah telah berupaya melaksanakan program untuk mencukupi kebutuhan zat besi yaitu melalui pemberian tablet zat besi bagi kelompok sasaran yang dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan puskesmas di masing – masing daerah setempat.

Zat besi yang diberikan berupa garam besi yaitu ferro sulfat ( FeSO4 ) sebanyak 500 mg. Pemberian dilakukan 1 ( satu ) minggu sekali dan melalui survey yang diadakan oleh pusat penelitian dan pengembangan gizi ( P3G ) Bogor mampu meningkatkan kadar Hb diats 11 %.

IV PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN

Program ini lebih dikenal dengan Pemberian Makanan Tambahan untuk Anak Sekolah ( PMT – AS ) yang dicanangkan tahun 1996. Hal ini di upayakan untuk mengatasi kecerdasan bagi anak usia sekolah yang amat membutuhkan pasokan makanan makanan bergizi.

Makanan pendukung program ini ditetapkan mengandung 300 kalori energi, 5 gram protein, sejumlah vitamin ( khususnya vitamin A ) dan mineral ( terutama zat besi ). Akan tetapi kenyataan di lapangan prevalensi kurang gizi masih tinggi yaitu status gizi kurang kalori, protein, zat besi dan vitamin A masing – masing 50, 55, 25, dan 40 %.

Tingginya prevalensi ini berkorelasi dengan makanan pendukung yang didominasi produk olahan nabati. Meskipun ada bahan yang digunakan bersal dari hewani seperti daging, susu, telur, mentega dan udang, pada jenis makanan kudapan tahu isi, bakwan sayur, perkedel kentang, pastel sayur namun jumlahnya relatif kecil. Hal ini menyebabkan rata – rata andungan protein dalam menu PMT – AS hanya 3,76 gram, energi rata – rata 228,14 kalori ( Sibuea , 2002 )

Pada akhirnya pemerintah disamping memfokuskan pada bantuan makanan bergizi kepada keluarga murid peserta PMT –AS. Disamping perlu peningkatan dana sehingga makanan pendukung lebih bergizi seperti susu, telur dan daging sebagai sumber protein. Hal ini perlu dilakukan agar program tercapai. Bila program hanya sekedar membagi – bagi makanan kepada anak sekolah, maka program ini masih berorientasi proyek dan tidak memperhitungkan kesinambunagan program, sehingga saat peserta PMT – AS tidak lagi mendapat makanan tambahan, status gizinya akan kembali rendah.

V PELAKSANAAN KEGIATAN

Banyak hal yang telah dilakukan oleh pemerintah terhadap program peningkatan kecukupan gizi antara lain sebagai berikut :

1. Pengawasan mutu garam briodium ditingkat produksi melalui pengujian kandungan KIO3.

2. Pengaturan tata niaga garam sehingga semua pelaku niaga / pedagang garam bebas melakukan perdaganagan garam baik antar propinsi maupun antar daerah sepanjang mempunyai surat ijin perdagangan yang masih berlaku dan mutunya memenuhi persyaratan.

3. Tetap mengupayakan KIE melaui media cetak maupun elektronik berupa pendistribusian materi – materi KIE ke daerah antara lain berupa melalui poster, leaflet, buku petunjuk pembuatan garam beriodium, pemutaran film, pelatihan petugas dan penyuluhan langsung di lapangan.

4. Koordinasi pelaksanaan kegiatan antara pusat dan pemerintah daerah untuk mengadakan pembinaan dan pengawasan umum. Akan tetapi setelah pemberlakuan otonomi daerah maka hal ini sepenuhnya diserahkan kepada daerah tujuannya untuk meningkatkan komitmen kepala daerah memberantas peredaran garam iodium serat meningkatkan dukungan media massa. Dari 37 kabupaten / kota yang dilibatkan, beberapa yang aktif melakukan pemantauan adalah Probolinggo, Tulungagung, Malang, Mamuju, Banjarnegara, Rembang dan Cirebon. ( K ompas , 2002 )

5. Menjalin kerjasama dengan departemen kesehatan dalam rangka pemberian suplemen zat besi berupa tablet FeSO4 500 mg kepada kelompok sasaran yaitu anak – anak sekolah dasar wanita usia subur dan hamil.

6. Khusus bagi anak sekolah dasar ( SD ) maupun madrasah ibtidaiyah ( MI ) dilakukan program Pembinaan Makanan Tambahan untuk Anak Sekolah ( PMT – AS ) guna mengatrol tingkat kecerdasan.

VI PENUTUP

Dari uraian di atas kiranya dapat dinyatakan bahwa kecukupan gizi terutama yang terkait langsung dengan pertumbuhan, kecerdasan otak dan kesehatan secara universal khususnya iodium dan zat besi serta protein amat penting.

Agar supaya Indonesia tidak kehilangan satu generasi sebagai akibat kurangnya asupan gizi dalam diet maka sudah menjadi kewajiban pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kerjasama terpadu guna mengatasi kekurangan gizi sehingga diperoleh generasi yang cerdas dan tangguh.

Untuk itulah kualitas SDM memerankan peranan yang penting dalam pengembangan bangsa. Pengembangan ilmu dan pengetahuan ( IPTEK ) yang berlangsung cepat dan menjadi barometer kemajuan suatu bangsa membutuhkan SDM berkualiats tinggi. Maka hal ini perlu dan harus didukung status gizi yang baik dan memadai.

Begitu kompleksnya akibat yang dapat ditimbulkan oleh kekurangan gizi. Oleh karena itu untuk memenuhi kecukupan gizi perlu pula di fahami suatu kebijaksanaan yang juga harus ditanggapi dengan sikap yaitu makan dengan menu seimbang dan tidak berlebihan.

VII DAFTAR PUSTAKA

Almasyhuri . 1998 . Survey Tingkat Prevalensi Anemia pada Ibu Hamil . Penelitian Gizi dan Makanan . Jilid 21 : 15

Emawati F . , Yuniar R , Susilawati , Herman . 2000 . Kebutuhan Ibu Hamil Akan Tablet Besi Untuk Pencegahan Anemia . Penelitian Gizi dan Makanan . Jilid 23 : 92

Fennema O . R . 1996 > Food Chemistry . Marcel Dekker Inc . 3th ed . : 641

Harper . 1982 . Biokimia . Universitas Indonesia Press . Hal : 618

Iswanto dan Amri M . Besi , Nutrisi Yang Berguna Sekaligus Berbahaya dalam Kmpas 13 September 2002 .

Kodyat B . A . 1992 . Masalah Yang Dihadapi Dalam Penyelenggaran Intervensi Garam Fortifikasi Dan Upaya Mengatasinya . PAU Pangan Dan Gizi IPB .

Kompas . 26 – Nopember 2002 . Upaya Penanggulangan GAKY .

Sibuae P . Perbaikan Gizi Anak Sekolah Sebagai Investasi SDM . dalam Kompas 9 September 2002 .

Soekirman . Status Gizi dan Masyarakat Yang Demokratis dalam Kompas 17 Juni 2002 .

Wirakartakusumah M . A . , Purwiyatno H . 1998 . Technical Aspects of Food Fortification . Food and Nutrition Bulletin Vol . 19 . No 2 : 101 – 102 .

SUMBER : http://www.kalbe.co.id

Rekayasa Genetika Tanaman

Sekira 20 produk pertanian hasil modifikasi genetik telah beredar di pasaran Amerika, Kanada, bahkan Asia Tenggara. Dalam enam tahun ke depan, berbagai perusahaan telah menyiapkan 26 produk lainnya, mulai dari kedelai, jagung, kapas, padi hingga stroberi. Dari yang tahan hama, herbisida, jamur hingga pematangan yang dapat ditunda.

PADA dasarnya prinsip pemuliaan tanaman, baik yang modern melalui penyinaran untuk menghasilkan mutasi maupun pemuliaan tradisional sejak zaman Mendel, adalah sama, yakni pertukaran materi genetik. Baik seleksi tanaman secara konvensional maupun rekayasa genetika, keduanya memanipulasi struktur genetika tanaman untuk mendapatkan kombinasi sifat keturunan (unggul) yang diinginkan.

Bedanya, pada zaman Mendel, kode genetik belum terungkap. Proses pemuliaan dilakukan dengan ”mata tertutup” sehingga sifat-sifat yang tidak diinginkan kembali bermunculan di samping sifat yang diharapkan. Cara konvensional tidak mempunyai ketelitian pemindahan gen. Sedangkan pada new biotechnology pemindahan gen dapat dilakukan lebih presisi dengan bantuan bakteri, khususnya sekarang dengan dikembangkannya metode-metode DNA rekombinan.

Varietas baru

Apa yang ingin dilakukan oleh para ahli genetika ialah memasukkan gen-gen spesifik tunggal ke dalam varietas-varietas tanaman yang bermanfaat. Hal ini akan meliputi dua langkah pokok. Pertama, memperoleh gen-gen tertentu dalam bentuk murni dan dalam jumlah yang berguna. Kedua, menciptakan cara-cara untuk memasukkan gen-gen tersebut ke kromosom-kromosom tanaman, sehingga mereka dapat berfungsi.

Langkah yang pertama bukan lagi menjadi masalah. Dengan teknik DNA rekombinan sekarang, ada kemungkinan untuk menumbuhkan setiap segmen dari setiap DNA pada bakteri. Tidak mudah untuk mengidentifikasi segmen khusus yang bersangkutan di antara koleksi klon. Khususnya untuk mengidentifikasi segmen tertentu yang bersangkutan di antara koleksi klon, apalagi untuk mengidentifikasi gen-gen yang berpengaruh pada sifat-sifat seperti hasil produksi tanaman.

Langkah kedua, memasukkan kembali gen-gen klon ke dalam tanaman juga bukan sesuatu yang mudah. Peneliti menggunakan bakteri Agrobacterium yang dapat menginfeksi tumbuhan dengan lengkungan kecil DNA yang disebut plasmid Ti yang kemudian menempatkan diri sendiri ke dalam kromosom tumbuhan. Agrobacterium merupakan vektor yang siap pakai. Tambahkan saja beberapa gen ke plasmid, oleskan pada sehelai daun, tunggu sampai infeksi terjadi, setelah itu tumbuhkan sebuah tumbuhan baru dari sel-sel daun tadi. Selanjutnya tumbuhan itu akan mewariskan gen baru kepada benih-benihnya.

Rekayasa genetika pada tanaman tumbuh lebih cepat dibandingkan dunia kedokteran. Alasan pertama karena tumbuhan mempunyai sifat totipotensi (setiap potongan organ tumbuhan dapat menjadi tumbuhan yang sempurna). Hal ini tidak dapat terjadi pada hewan, kita tidak dapat menumbuhkan seekor tikus dari potongan kepala atau ekornya. Alasan kedua karena petani merupakan potensi besar bagi varietas-varietas baru yang lebih unggul, sehingga mengundang para pebisnis untuk masuk ke area ini.

Kapas transgenik

Tanaman hasil rekayasa genetika atau sering kita sebut sebagai tanaman transgenik melangkah dari eksperimen laboratorium ke uji lapangan dan akhirnya komersialisasi hampir tanpa hambatan yang berarti. Memang, kadang ada eksperimen yang gagal, tetapi tidak sampai menimbulkan ”kecelakaan.”

Tahun 1989 untuk pertama kalinya uji lapangan dilakukan pada kapas transgenik yang tahan terhadap serangga (Bt cotton) dan pada tahun yang sama dimulai proses pemetaan gen pada tanaman (Plant Genome Project). Pada tahun 1992 sebuah perusahaan penyedia benih memasukkan gen dari kacang Brasil ke kacang kedelai dengan tujuan agar kacang kedelai tersebut lebih sehat dengan mengoreksi defisiensi alami kacang kedelai untuk bahan kimia metionin. Meskipun sedikit, ada orang yang alergi terhadap kacang Brasil dan kacang kedelai transgenik tersebut menimbulkan efek alaergi pada orang yang sama.

Perusahaan tersebut menghentikan projek tersebut padahal ratusan ribu orang dapat diselamatkan dari kekurangan gizi tersebut dibandingkan satu atau dua orang saja yang alergi terhadap kedelai tersebut. Dua tahun kemudian untuk pertama kalinya Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyetujui pangan transgenik (tomat) yang dapat ditunda proses kematangannya (FLARSAVR Tomatoes). Pada tahun 1999, di Inggris, dengan badan regulasi keamanan produk pangan yang telah kehilangan kepercayaan setelah epidemi ”sapi gila.” Produk hasil rekayasa genetika menjadi perkara besar, padahal di Amerika perkara yang sama telah menjadi biasa pada tiga tahun sebelumnya.

Serap tenaga kerja

Memang di dalam teknologi rekayasa genetika ada yang aman ada juga yang tidak, sama amannya atau sama bahayanya dengan gen-gen yang direkayasa. Apabila gen introduksi menghasilkan racun, tanaman transgenik dengan sendirinya akan menjadi racun. Kelebihan dari proses rekayasa genetika tanaman transgenik dibandingkan dengan pemuliaan tanaman secara tradisional yaitu dalam tanaman transgenik, gen yang dipindahkan dapat diketahui dengan persis dan dapat diikuti "perjalanannya". Tanaman yang tahan terhadap serangga tertentu, tidak begitu banyak memerlukan insektisida, bahan bakar untuk alat semprot, dan tidak ada kaleng bekas insektisida menjadikan tanaman transgenik ramah terhadap lingkungan.

Dapat menjadi bahan renungan bagi kita, saat ini enam puluh persen benih yang dijual di Amerika adalah benih hasil rekayasa genetika. Tak heran, jika sejak 1992 pertumbuhan industri bioteknologi mengalami pertumbuhan lebih dari tiga kali lipat. Dengan peningkatan pendapatan dari 8 miliar dolar AS di tahun 1992 menjadi 27,6 miliar dolar AS di tahun 2001.

Bukan hanya itu, industri bioteknologi telah menyediakan lapangan kerja bagi 179.000 orang, jumlah ini lebih banyak dari jumlah pekerja di bidang makanan, mainan, dan jasa. Inilah kemajuan bioteknologi yang kita harapkan. Coba kita cermati apa yang dikatakan William Shakespeare dalam Measure for Measure, keraguan adalah pengkhianatan, membuat kita kehilangan peluang untuk menang karena rasa takut untuk mencoba. Ya, dari totipotensi telah menjadi potensi bisnis. Bagaimana dengan di Indonesia?***

Dadang Gusyana

Alumni Jurusan Biologi FMIPA Unpad, Media Outreach, Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC

http://www.pikiran-rakyat.com

Bioteknologi

Secara tradisional, pemuliaan tanaman, dan rekayasa genetika sebenarnya telah dilakukan oleh para petani melalui proses penyilangan dan perbaikan tanaman. Misalnya melalui tahap penyilangan dan seleksi tanaman dengan tujuan tanaman tersebut menjadi lebih besar, kuat, dan lebih tahan terhadap penyakit. Selama puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, para petani dan para pemulia tanaman telah berhasil memuliakan tanaman padi, jagung, dan tebu, sehingga tanaman-tanaman tersebut mempunyai daya hasil tinggi dan memiliki kualitas panen yang lebih baik.

Secara tidak sadar kita telah mengkategorikan tanaman-tanaman hasil pemuliaan tradisional padi, jagung, dan tebu, tadi sebagai tanaman yang bersifat 'alamiah', padahal penampilan fenotif maupun genotif tanaman-tanaman tersebut sudah jauh berbeda dibandingkan dengan kerabat alaminya yang asli yang tumbuh di alam bebas dan lebih mirip sebagai gulma atau malah tanaman kerabat alaminya tersebut sudah punah.

Proses pemindahan gen pada pemuliaan tradisional dilakukan melalui proses penyerbukan dengan perantaraan angin maupun bantuan serangga penyerbuk. Proses penyerbukan ini sering kali melibatkan bantuan manusia, misalnya melalui penyerbukan dengan cara memindahkan serbuk sari tanaman yang satu ke ujung putik tanaman lainnya.

Pada proses penyerbukan dengan bantuan manusia ini, tidak jarang jumlah kromosom (pembawa sifat) pada serbuk sari tersebut harus 'disesuaikan' terlebih dahulu oleh larutan pengganda kromosom seperti colchisine sehingga serbuk sari menjadi lebih kompatibel dengan tanaman betina melalui kepala putiknya. Upaya ini terus dilakukan secara berlanjut dalam bentuk penyelamatan embrio (embrio rescue) sehingga hibrida dapat bertahan (survive) dan tumbuh menjadi tanaman dewasa.

Pemuliaan tradisional telah banyak membantu meningkatkan produktivitas pertanian dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Data FAO tahun 1992 menunjukkan adanya peningkatan hasil biji-bijian (grain) dari rata-rata 1.1 ton per hektar pada tahun 1950 menjadi 2.8 ton per hektar pada tahun 1992. Namun karena jumlah penduduk masih jauh lebih besar dibandingkan dengan produksi pangan, peningkatan hasil pangan melalui proses pemuliaan ini masih terus dikembangkan.

Ahli demografi dari Perserikatan Bangsa Bangsa menyatakan jumlah penduduk dunia saat ini mencapai enam milyar orang, atau jumlahnya dua kali lipat dari jumlah penduduk 50 tahun yang lalu. Diperkirakan populasi dunia akan mencapai sembilan milyar pada 50 tahun mendatang (Population Division, 1999). Untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk yang populasinya terus bertambah dengan pesat ini, diperlukan lahan pertanian yang luas. Sementara itu ketersedian lahan untuk pertanian semakin lama semakin berkurang karena peruntukkannya banyak yang diubah menjadi lahan perumahan dan industri.

Oleh karena itu, diperlukan terobosan-terobosan di bidang teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian per unit lahan. Seperti diyakini para pakar, rekayasa genetika merupakan salah satu teknologi pertanian yang berpeluang dapat me-ningkatkan produktivitas pertanian (Swa-minathan, 1999, McGloughlin, 1999). Teknologi ini telah berkembang pesat selama kurun waktu lima belas tahun terakhir ini.

Prinsip rekayasa genetika sama dengan pemuliaan tanaman, yaitu memperbaiki sifat-sifat tanaman dengan menambahkan sifat-sifat ketahanan terhadap cekaman mahluk hidup pengganggu maupun cekaman lingkungan yang kurang menguntungkan serta memperbaiki kualitas nutrisi makanan. Perbedaan rekayasa genetika dengan pemuliaan tradisional adalah kemampuan rekayasa genetika dalam memanfaatkan gen-gen yang tidak dapat dipergunakan secara maksimal pada pemuliaan tradisional karena banyak gen yang terhalang saat penyerbukan.

Rekayasa genetika adalah kelanjutan dari pemuliaan secara tradisional. Tidak seperti halnya pemuliaan tanaman secara tradisional yang menggabungkan seluruh komponen materi genetika dari dua tanaman yang disilangkan, rekayas genetika memungkinkan pemindahan satu atau beberapa gen yang dikehendaki dari satu tanaman ke tanaman lain.

Pada pemuliaan tradisional diperlukan sedikitnya lima generasi penyilangan balik (backcross) untuk menghilangkan gen-gen yang tidak dikehendaki dan mungkin bersifat merugikan karena bertaut dengan gen yang diinginkan pada proses fertilisasi, sehingga pemuliaan tanaman secar tradisional memerlukan waktu yang lama.

Selain itu, pemuliaan tanaman tradisional memiliki keterbatasan dalam menggunakan sumber-sumber gen yaitu hanya sebatas menggunakan tananam yang bisa disilangkan saja. Misalnya, pemindahan gen yng toleran terhadap air asin dari tanaman manggrove famili Rhizophoraceae pada tanaman padi tidak mungkin dilakukan melalui proses penyilangan (Swaminathan, 1999).

Demikian halnya dengan pemindahan gen untuk provitamin A pada endosperma biji padi yang tidak mungkin dapat dilakukan secara tradisional. Keunggulan rekayasa genetika adalah mampu memindahkan materi genetika dari sumber yang sangat beragam dengan ketepatan tinggi dan terkontrol dalam waktu yang lebih singkat. Melalui proses rekayasa genetika ini, telah berhasil dikembangkan tanaman yang tahan terhadap organisme pengganggu seperti serangga, penyakit dan gulma yang sangat merugikan tanaman (James, 1998). Departemen Pertanian Cina telah melakukan penelitian dan pengujian lapangan terhadap 47 spesies tanaman transgenik dan 103 macam genetik (Zhang, 1999).

Di negara kita, LIPI telah berhasil memasukkan gen bioteknologi (Bt) pada padi sehingga padi tersebut menjadi tahan hama dan serangga. Rekayasa genetika juga membawa perbaikan kualitas seperti meningkatnya kandungan provitamin A padi (Ye dan kawan-kawan, 2000), menurunya kadar lemak jenuh pada minyak nabati (Lehrer, 1999) dan masih banyak lagi.

Penelitian di Universitas Texas A & M menunjukkan bahwa jagung Bt memiliki kadar racun mycotoxin (penyebab kanker) yang sangat rendah dibanding jagung biasa, karena pada jagung Bt tidak terdapat luka gigitan serangga yang biasanya menjadi tempat masuknya jamur penghasil mycotoxin (Benedict dkk, 1998).

Tanaman-tanaman produk rekayasa genetika (transgenik) kini telah ditanam secara luas di dunia. Menurut penelitian organisasi nirlaba ISAAA (International Service for the Acquistion of Agri-Biotech Aplication), penanaman produk rekayasa genetika merupkan satu-satunya teknologi pertanian digunakan secara luas oleh petani sehingga mengalami peningkatan yang pesat setiap tahunnya. Dengan tanaman hasil rekayasa genetika ini, para petani menjadi lebih puas terhadap produk pertanian. Produk ini telah berhasil memberikan berbagai keuntungan kepada petani misalnya memberikan hasil yang meningkat, memudahkan budidaya pertanian, serta lebih ramah lingkungan karena berkurangnya penggunaan bahan-bahan pestisida kimia. Total luas area tanaman transgenik untuk tahun 2001 adalah 52,6 juta hektar (James, 2001).

Analisa resiko tanaman produk rekayasa genetika
Pelepasan tanaman produk rekayasa genetika ke alam dipandang memiliki resiko terhadap lingkungan dan kesehatan manusia seperti misalnya kemungkinan tanaman transgenik tersebut menjadi gulma, kemungkinan terjadinya perpindahan gen pada spesies lain yang berakibat buruk, dan resiko kesehatan karena tanaman transgenik tersebut digunakan sebagai makanan.

Proses perpindahan DNA dari satu spesies ke spesies lain secara alami terjadi di alam. Bahkan dipercaya proses ini merupakan bagian dari proses evolusi biosfer planet bumi yaitu terjadinya perpindahan materi genetik ganggang hijau biru (merupakan nenek moyang sel tanaman) yang menyebabkan tanaman menjadi mampu melakukan proses fotosintesa yang secara drastis mengubah kondisi bumi yang tadinya tidak beroksigen (anaerobik) menjadi beroksigen (aerobik) (Suwanto, 2000).

Contoh lain misalnya ketahanan (survival) bakteri tanah Agrobacterium tumefasciens dengan mengintegrasikan sebagian genomnya pada tanaman, seperti pada pembuatan tanaman transgenik saat ini. Dengan demikian, proses perpindahan DNA pada tanaman transgenik tidak dengan sendirinya menimbulkan resiko namun yang dihasilkan dari ekspresi gen intraduksi-lah yang harus dikaji resikonya.

Berikut ini adalah petikan-petikan analisa resiko yang berasal publikasi The Royal Society of New Zealand (Conner, 1997) dan dari sumber-sumber lainnya.

1. Mungkinkah tanaman transgenik berubah menjadi gulma?

Seperti yang telah diuraikan di atas, tanaman budidaya memiliki tampilan agronomis yang jauh berbeda dibandingkan dengan tanaman nenek moyangnya yang mungkin lebih menyerupai gulma. Ciri-ciri gulma adalah biji memiliki masa dormansi (istirahat) yang panjang, mampu beradaptasi pada lingkungan yang beragam, pertumbuhan yang terus menerus, serta penyebaran biji yang lebih luas. Ciri-ciri kegulmaan ini telah dihilangkan pada tanaman budidaya melalui proses pemulian tanaman selama ratusan bahkan ribuan tahun. Pemindahan satu gen saja (misalnya gen ketahanan terhadap serangga, atau herbisida) tidak akan bisa mengembalikan semua karakter kegulmaan pada tanaman budidaya.

2. Mungkinkah gen baru dipindahkan kepada gulma dan menjadi gulma yang super?

Penanaman tanaman transgenik yang tahan terhadap herbisida mendatangkan kekhawatiran akan berpindahnya karakter tahan terhadap herbisida tersebut pada kerabat liarnya yang merupakan gulma sehingga tanaman tersebut dikhawatirkan menjadi tanaman gulma yang super. Kekhawatiran ini terutama mungkin terjadi jika tanaman tersebut ditempatkan di tempat keanekaragaman hayati (center of genetic diversity) tanaman transgenik tersebut. Tanaman-tanaman budidaya yang ditanam secara luas di Indonesia dan memiliki nilai tinggi berasal dari introduksi dari negara lain, seperti jagung yang berasal dari Meksiko, kedelai dari Cina, kapas dari India, kelapa sawit dari Papua Nugini, dan karet dari Brazil.

Perpindahan materi genetik dari tanaman budidaya ke tanman kerabat liarnya telah terjadi di tempat yang merupakan pusat keanekaragaman hayati tanaman transgenik itu. Isu ini perlu diperhatikan dan dicarikan jalan keluarnya. Dapat dikatakan bahwa isu ini tidak unik pada tanaman transgenik karena tanaman transgenik yang tahan herbisida tersebut bukan saja merupakan produk rekayasa genetika tetapi juga banyak tanaman tahan herbisida yang merupakan hasil pemuliaan tanaman itu sendiri.

3. Apakah jagung Bt membahayakan kupu-kupu Monarch ?

Telah dilaporkan daun tanaman milkweed yang ditaburi serbuk sari dari tanaman jagung hasil Bioteknologi (Bt) membunuh ulat Kupu-kupu Monarch di laboratiorium Unirversitas Cornell (Losey dkk, 1999). Laporan ini telah berturut-turut dibantah dengan penelitian yang dilakukan skala lapangan. Penelitian lapangan ini menyimpulkan bahwa di lapangan, tanaman milkweed yang merupakan satu-satunya sumber makanan ulat kupu-kupu Monarch, ternyata tidak hidup dan tidak tumbuh bersama-sama dengan jagung, masa reproduksi ulat Kupu-kupu Monarch juga tidak bersamaaan dengan masa pembungaan tanaman jagung, dan kalaupun serbuk sari jagung jatuh ke daun milkweed maka jumlahnya jauh lebih kecil dari jumlah serbuk sari yang dioleskan ke permukaan daun pada saat percobaan laboratorium di Universitas Cornell tersebut (Pleasant dkk 1999, sears 2000).

4. Apakah tanaman transgenik berbahaya bila dikonsumsi ?

Dr. Arpad Pusztai melakukan penelitian mengenai dampak buruk terhadap kesehatan tikus setelah diberi makan kentang transgenik yang mengandung gen lectin yang bersifat racun (Ewen dan Pusztai 1999). Dapat dikatakan bahwa kentang transgenik ini bukan produk komersial, kentang ini tidak mungkin lolos dalam pengujian keamanan pangan dan diijinkan untuk di komersialkan karena sebelumnya telah diketahui sifat lectin yang beracun. Selanjutnya, dalam pernyataan tertulisnya The Royal Society menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Puztai tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya karena mengandung kesalahan (flaw) baik dalam desain eksperimen, perlakuan maupun analisa hasilnya (The Royal Society Press Release, 18 Mei 1999).

Tanaman transgenik dapat berbahaya atau bermanfaat bagi manusia dan lingkungan tergantung tujuan pengembangannya dan tidak terlepas juga dari sifat gen yang diintroduksi. Apabila gen introduksi menghasilkan racun, maka tanaman transgenik dengan sendirinya akan menjadi racun. Kelebihan dari proses rekayasa genetika tanaman transgenik dibandingkan dengan pemuliaan tanaman secara tradisional yaitu dalam tanaman transgenik, gen yang dipindahkan dapat diketahui dengan persis dan dapat diikuti "perjalanannya".

Analisa toksisitas pada tanaman transgenik biasa dilakukan dengan menggunakan metoda acute gavage serta feeding studies pada binatang-binatang percobaan untuk menentukan apakah protein baru bersifat toksik atau tidak (Hamond dkk, 1996).

Sementara itu telah didokumentasikan bahwa tanaman-tanaman hasil pemuliaan tradisional pun dapat membahayakan kesehatan seperti varietas kentang Lenape dari AS dan Kanada dan varietas Magnum Bonum dari Swedia. Kedua varietas ini telah ditarik dari pasaran karena memiliki kadar racun glikoalkaloid yang tinggi (Zitnak dari Johnston 1970, Hellenas dkk 1995). Selain itu, varietas seledri yang resist (tahan) terhadap serangga hasil pemuliaan tradisional yang dilepas di Amerika Serikat ternyata memiliki kadar psoralen (karsinogen) yang tinggi (Ames dan Gold 1988).

5. Apakah produk rekayasa genetik (L-tryptophan) membunuh manusia ?

Penyakit EMS (Eosinophilia-Myalgia Syndrome) yang menyebabkan kematian pada manusia ternyata disebabkan oleh konsumsi makanan suplemen yang mengandung L-tryptophan (US FDA 1990). L-tryptophan dihasilkan dari hasil fermentasi bakteri Bacillus amyloliquefaciens. Untuk meningkatkan produksi asam amino ini, perusahaan pembuatnya yaitu Showa Denko merekayasa genetik bakteri Bacillus amyloliquefaciens. Pada saat bersamaan perusahaan itu juga mereduksi penggunaan karbon aktif yang diperlukan untuk menyaring kontaminan dan impuriti yang biasa terdapat pada setiap proses fermentasi sebanyak 50%.

Penyakit EMS (Eosinophilia-Myalgia Syndrome) [tryptophan] yang terjadi diakibatkan oleh proses penyaringan yang tidak sempurna. (Mayeno dkk, 1990 dan Hill dkk, 1993). Penyakit ini bukan disebabkan karena penggunaan transgenik bakteri.

6. Apakah produk rekayasa genetika dapat menyebabkan alergi ?

Alergi terhadap makanan diartikan sebagai reaksi imunologi (kekebalan) tubuh, yang mempunyai dampak merugikan kesehatan, terhadap antigen yang terdapat dalam makanan (Lehrer 1999). Lebih dari 90% kasus alergi terhadap makanan disebabkan karena makanan-makanan yang termasuk dalam "kelompok delapan" yaitu telur, ikan, makanan laut, susu, kacang tanah, kacang kedelai, pohon penghasil kacang (tree nuts), dan gandum (Taylor dan Lehrer 1996).

Rekayasa genetika memungkinkan terjadinya introduksi protein yang berasal dari sumber yang beragam pada makanan. Alergy and immunology institute dan Internasional food Biotechnology Council bersama dengan para pakar dibidangnya telah merumuskan protokol pengujian kemungkinan makanan hasil rekayasa genetika yang bersifat sebagai alergen (Metcalfe dkk, 1996). Untuk menguji makanan hasil rekayasa genetika yang tidak mengandung alergen dilakukan serangkaian pengujian meliputi identifikasi sumber gen apakah berasal dari "kelompok delapan" di atas.

Jika demikian, selanjutnya dilakukan pengujian-pengujian imunologis seperti solid phase immunoassay dan tes skin prick. Seandainya sumber gen tersebut bukan berasal dari "kelompok delapan", susunan asam amino protein introduksi kemudian dibandingkan dengan protein-protein yang telah diketahui bersifat sebagai alergen yang terdapat dalam database seperti GenBank, EMBL, SwisProt, PIR, untuk dilihat kesamaan susunan asam aminonya. Selanjutnya, stabilitas protein introduksi dianalisa sesuai dengan sifat allergen, karena juga allergen diketahui bersifat stabil pada suhu tinggi dan juga stabil pada sistem pencernaan. Beberapa contoh evaluasi alergenisitas tanaman hasil rekayasa genetika adalah sebagai berikut:

a). Kedelai yang mengandung gen kacang Brazil (Nordlee dkk).
Dalam upaya memperkaya protein kedelai dengan asam-asam amino yang mengandung gugus sulfur (seperti metionin), gen kacang Brazil yang kaya akan gugus sulfur telah dimasukkan ke dalam salah satu jenis kacang kedelai. Seperti diketahui baik kedelai maupun kacang Brazil, merupakan bagian dari " kelompok delapan" (tree nuts) yang dapat menyebabkan reaksi alergi. Evaluasi alergenisitas terhadap kedelai transgenik dengan gen dari kacang Brazil meningkatkan potensi alergenisitas kedelai tersebut. Dengan demikian, pengembangan kedelai dengan gen dari kacang Brazil kemudian dihentikan (Conner 1997, Lehrer 1999).

b) Meningkatkan kadar asam oleat (oleic acid) pada kacang kedelai. (Lehrer dan Reese, 1998).
Kedelai ini direkayasa genetiknya kadar asam oleiknya meningkat sehingga lemak yang terkandung dalam kacang kedelai tersebut menjadi lebih sehat. Proses rekayasa genetika yang dilakukan pada kacang kedelai ini adalah dengan meningkatkan kadar beberapa macam protein sehingga dikhawatirkan dapat pula meningkatkan potensi alergenitas pada kacang kedelai tersebut. Evaluasi alergenisitas kemudian dilakukan seperti halnya pada evaluasi kedelai dengan kacang Brazil di atas. Hasilnya terbukti bahwa kacang kedelai dengan kadar asam oleat tinggi tidak memiliki potensi alergenisitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kacang kedelai biasa.

Dari contoh evaluasi alergenitas di atas dapat disimpulkan bahwa kemungkinan diintroduksinya alergen pada proses rekayasa genetika sudah dapat diprediksi dengan metoda deteksi yang memang sudah tersedia untuk mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan introduksi ini. Penelitian-penelitian selama ini membuktikan bahwa penambahan protein pada makanan yang bukan berasal dari kelompok delapan di atas, yang tidak memiliki kesamaan susunan asam amino dengan protein alergen yang ada di database serta protein pada sumber makanan tersebut mudah terurai (tidak stabil) pada pemanasan maupun pada proses pencernaan, tidak membuat tanaman transgenik tersebit menjadi lebih bersifat allergen dibandingkan dengan tanaman bukan transgenik.

Selain itu, dibandingkan dengan proses pemuliaan biasa, gen yang diintroduksi pada tanaman hasil rekayasa genetika, sudah diketahui persis susunan DNA-nya maupun protein hasil ekspresinya, sehingga kemungkinan adanya allergen pada tanaman hasil rekayasa genetika sudah dapat diprediksi lebih dini. Misalnya, penelitian di Jepang menunjukkan dengan rekayasa genetika telah dimungkinkan adanya pengurangan kadar protein allergen tanaman padi. (Matsuda dkk, 1993).


Penutup
Rekayasa genetika diyakini oleh pakar sebagai terobosan teknologi yang berpotensi untuk meningkatkan produktivitas pertanian per unit lahan yang diperlukan dalam mengimbangi jumlah pertambahan penduduk. Untuk menjamin keamanan produk pertanian hasil rekayasa genetika terhadap lingkungan maupun terhadap kesehatan, produk-produk ini harus melewati proses pengujian sebelum dipasarkan. Di negara-negara lain, metode-metode pengujian keamanan produk-produk pertanian hasil rekayasa genetika telah tersedia dan penelitian atas tanaman-tanaman transgenik yang kini dipasarkan telah diakui keamanan pangan (food safety) maupun keamanannya terhadap lingkungan, misalnya oleh badan-badan pengatur seperti Health and Welfare Canada (Kanada), Advisory Committee on Novel Foods and Process, Ministry of Agriculture, fisheries and Food (Inggris), National Food Agency (Denmark), Ministry of Agriculture, Fisheries, and Forestry (Jepang), Australia, Argentina, Malaysia, Afrika Selatan dan negara-negara lain.

Daftar Pustaka

  • Addressing Today's Core Issues for Better Food & Industry Growth. 2000.

  • Agricultural Biotechnology: Insect Control Benefits - 1999. National Center for Food & Agricultural Policy.

  • Falck- Zepada, JB; G. Traxler and RG Nelson. 1997. Rent Creation & Distribution from Biotechnology Innovations. The Case of Bt Cotton and Herbicide Tolerant Soybeans in 1997 Agribusiness. In press.

  • Hoban, T.J. Forum 4" Qtr 2000 95-105.

  • Ismael, Y; L. Beyers;C, Thirtle & J.Plesse. 2000. Efficiency Effect of Bt Cotton Adoption by Smallholders in Makhathini Flats, Kwa-Zulu Natal, South Africa. 5 th International Conference on Blotechnology, Science & Modern Agriculture. Ravello, Italy.

  • James, C. 1998. Global Review of Commercialized Transgenic Crops. ISAAA Bulletin

  • K. Setiawan, F. Susilo , H. Ismono, M. Utomo. The Proceedings 18th APWSS Conference, Beijing

  • Monsanto and Academic Field Trial Results. 1997 & 1998, unpublished results.

  • Monkvold, GP;Hellmich, RL; Showers. 1997. Reduced Fusarium Ear Rot & Symptomless Infection in Kernals of maize Genetically Engineeredfor European Com Borer Resistance. Phytopathology 87(10): 1071- 1077.

  • Pray, CE; D. Ma; J; Huang & F. Qiao. 2000. Impact of Bt Cotton in China. Rockefeller Foundation. In press.

  • Saragih, E. 2000. RR-Corn Performance, Indonesia. Monsanto internal report.

  • Sembodo, D.R.J. 2001. Herbicide Tolerant Crop (RR-Corn) Under Conservation Tillage System: Prospects & Challenge.

  • The State of Food & Agriculture 2000. Food & Agriculture Organization of the United Nations. Rome - Page 1-330

disadur dari : shantybio.transdigit.com